Contoh Soal PAT UKK Sekolah Dasar SD Kelas 4 Tema 8, Kunci Jawaban dan Latihan Soal PAT UKK Tahun 2022

- 2 Juni 2022, 15:34 WIB
Contoh Soal PAT UKK Sekolah Dasar SD Kelas 4 Tema 8, Kunci Jawaban dan Latihan Soal PAT UKK Tahun 2022
Contoh Soal PAT UKK Sekolah Dasar SD Kelas 4 Tema 8, Kunci Jawaban dan Latihan Soal PAT UKK Tahun 2022 /Unsplash.com/Kenny Eliason


Cianjurpedia.com – Semangat belajar adik-adik. Berikut ini contoh soal PAT (Penilaian Akhir Tahun) atau UKK (Ulangan Kenaikan Kelas) kelas 4 SD/MI Tema 8 “Daerah Tempat Tinggalku”.

Artikel ini menyajikan contoh soal PAT/UKK kelas 4 SD/MI Tema 8 Kurikulum 2013 untuk menjadi panduan adik-adik dalam belajar.

Sekalipun sudah ada kunci jawaban semacam ini, tentu akan lebih baik lagi jika adik-adik terlebih dahulu mencoba untuk mengerjakannya.

Adanya kunci jawaban ini diharapkan bisa menjadi sebuah referensi atau bahan evaluasi dalam proses belajar mengajar.

Baca Juga: Pekan Imunisasi Dunia, Sekda Jabar: Luruskan Informasi yang Tidak Tepat Terkait Imunisasi

Sebagaimana yang dilansir Cianjurpedia.com dari berbagai sumber, berikut ini contoh soal PAT/UKK kelas 4 SD/MI tema 8, Kurikulum 2013.

Soal Pilihan Ganda
1. Sikap dalam menghadapi perbedaan Agama antarteman yaitu..
a. Menghormati teman yang sedang melakukan ibadah.
b. Memilih dalam berteman
c. Mengusilkan teman yang berbeda agama.
d. Membuat keributan ketika ada teman yang sedang melakukan ibadah.
Jawaban: A

2. Keberagaman karakteristik yang ada di rumah meliputi, kecuali …
a. Jenis kelamin
b. Kegemaran
c. Usia
d. Tempat tinggal
Jawaban: D

3. Setiap hari Ahad pagi Doni bermain badminton Bersama dengan teman- temannya, sedangkan Ayah melakukan Lari pagi di Alun- laun kota. Perbedaan karakteristik yang ada pada Doni dan Ayah adalah …
a. Kegemaran
b. Fisik
c. Usia
d.Tempat tinggal
Jawaban: A
Soal No 4- 7
Si Pitung
Suatu sore Si Pitung melihat kelakuan anak buah Babah Liem yang sewenang-wenang. Babah Liem adalah tuan tanah di daerah tempat tinggal Si Pitung. Dia dan anak buahnya sering merampas harta rakyat dan menarik pajak tinggi. Sebagian hasil rampasan itu diberikan kepada pemerintah Belanda.
Si Pitung bertekad untuk melawan anak buah Babah Liem. Kemudian, dia berguru kepada Haji Naipin, seorang ulama yang juga pandai ilmu bela diri. Si Pitung cepat menguasai semua ilmu yang diajarkan oleh Haji Naipin.
”Pitung, gunakan ilmu yang kuberikan untuk membela orang-orang yang tertindas. Jangan sekali-kali kau gunakan ilmumu ini untuk menindas orang lain,” pesan Haji Naipin.
Sekarang Si Pitung sudah siap melawan anak buah Babah Liem. Dia menghentikan ulah anak buah Babah Liem yang sedang merampas harta rakyat jelata.
”Heh, Anak Muda! Siapa kau? Beraninya menghentikan kami!” tanya salah satu anak buah Babah Liem.
”Kalian tak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, aku akan menghentikan ulah kalian selamanya,” jawab Si Pitung.
Anak buah Babah Liem menyerang Si Pitung. Namun, Si Pitung bisamengalahkan mereka semua. Sejak saat itu, nama Si Pitung terkenal di kalangan penduduk.
Si Pitung memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada rakyat jelata. Dia bertekad untuk mengambil kembali hak yang sudah dicuri oleh tuan tanah dan mengembalikannya kepada rakyat. Dia mengajak beberapa temannya untuk bergabung dengannya.
Kelakuan Si Pitung tidak disukai oleh tuan tanah dan juga pemerintah Belanda. Mereka mengeluarkan perintah untuk menangkap Si Pitung. Namun, Si Pitung amat cerdik. Dia selalu berpindah tempat sehingga pemerintah Belanda dan juga tuan tanah tidak bisa menangkapnya. Karena kesal, pemerintah Belanda menggunakan cara licik. Mereka menangkap Pak Piun, ayah Si Pitung dan Haji Naipin.
Salah satu pejabat pemerintah Belanda yang bernama Schout Heyne mengumumkan bahwa jika Si Pitung tak menyerah, Pak Piun dan Haji Naipin akan dihukum.
Si Pitung mendengar berita tentang penangkapan ayah dan gurunya itu. Kemudian, dia menghadap Schout Heyne dan menyerahkan diri. Dia tak mau ayah dan gurunya menderita.
”Pitung, kau telah meresahkan banyak orang dengan kelakuanmu itu. Untuk itu, kau harus dihukum tembak,” kata Schout Heyne.
”Kau tidak keliru? Bukannya kau dan tuan tanah itu yang meresahkan orang banyak? Aku tidak takut dengan ancamanmu!” jawab Si Pitung.Schout Heyne benar-benar melaksanakan ancamannya. Si Pitung dihukum tembak. Hidup Si Pitung berakhir di ujung peluru. Namun, kisah kepahlawanannya tetap dikenang. Si Pitung, si pahlawan rakyat jelata.

Sumber: Dian K, 100 Cerita Rakyat Nusantara, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2014.

Halaman:

Editor: Sutrisno


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

x